Header Ads

Pantai Jonggring Saloko, Fenomena Khas Kahyangan di Malang






Malang-jatim,delapanenam.com Pantai Jonggring Saloko bisa dibilang masih kalah tenar dari sederet nama pantai yang berada di kawasan Malang selatan. Namun, di balik namanya yang kurang populer ini, tersimpan fenomena khas kahyangan yang sayang sekali jika dilewatkan di hari libur ini.

Nama Jonggring Saloka diambil dari cerita pewayangan, yang merupakan nama sebuah kahyangan yang ditinggali oleh Batara Narada. Tokoh pewayangan yang juga memiliki julukan Sanghyang Kanwakaputra atau Sanghyang Kanekaputra itu adalah seorang tangan kanan dari Batara Guru.


Memang tak banyak orang yang tahu keberadaan pantai dengan tingkat eksotismenya tak kalah mewah dengan pantai-pantai di Pulau Bali ini. Tak heran, karena medan yang harus ditempuh pengunjung terbilang cukup menantang. Namun, sesuai dengan namanya yang diambil dari nama sebuah kahyangan, pantai ini memiliki pesona bak tempat tinggal dewa-dewi itu.

Rasa lelah dan sulitnya medan yang ditempuh untuk mencapai bibir pantai ini bakal terbayar lunas oleh pemandangan khas kahyangan yang tersaji di Pantai Jonggring Saloko. Apalagi ada sebuah fenomena alam yang diklaim sebagai satu-satunya di Indonesia, bahkan di dunia bernama “Watu Ngebros”. Disebut Watu Ngebros karena dari kumpulan batu karang besar menjulang di bibir pantai ini keluar semburan air ke udara. Muncratan air ini tercipta dari hasil pertemuan dua arus gelombang besar dari selatan dan utara yang bertabrakan di satu titik yang berada di dalam rongga batu karang yang lebih mirip sebuah gorong-gorong raksasa tersebut. Rongga batu karang itu memuntahkan gelombang yang menghasilkan suara gemuruh cukup keras berbunyi “broossssss”. Konon saat gelombang besar, suara “ngebros” itu terdengar hingga sejauh tujuh kilometer ke arah sekitar pantai.

Siraman air ke udara itu bahkan kadang memunculkan pelangi ketika berpadu dengan siraman matahari. Namun kemunculan pelangi itu tidak bisa diprediksi dan belum tentu sehari sekali. Munculnya pelangi itu hanya jika ada arus ombak besar yang menghajar rongga batu karang raksasa, serta tergantung datangnya cahaya matahari yang mengarah tepat menyinari muncratan air tersebut.

Namun sayangnya, fenomena Watu Ngebros ini terancam menghilang sewaktu-waktu. Fenomena alam yang nyaris tidak pernah ada di pantai mana pun itu kondisinya saat ini memang tidak sebagus dulu. Dari waktu ke waktu, rongga dalam batu karang ini terus membesar oleh hantaman gelombang, sehingga suara “ngebros” yang keluar dari rongga batu karang itu sudah tak lagi segemuruh dulu.

Pantai Jonggring Saloka juga menawarkan sesuatu yang berbeda lainnya. Sekitar 200 meter ke arah barat, pengunjung bisa menemui pantai pasir hitam. Hamparan pasir di sepanjang pantai ini berwarna hitam pekat, namun tekturnya halus lembut, cocok untuk anak-anak yang ingin bermain membangun istana pasir.

Selain itu, ada pula satu tempat menarik berupa sungai kecil dengan aliran menuju ke laut Pantai Jonggring Saloko. Air sungai ini masih tawar rasanya, meski hanya berjarak beberapa meter dari bibir Pantai. Area sekitar sungai ini sering digunakan pengunjung untuk mendirikan tenda untuk bermalam.

Menginat sulitnya akses jalan menuju Pantai Jonggring Saloko ini, fasilitas di dalamnya terbilang masih kurang minim. Jadi, pengunjung harus membawa bekal bahan makanan dan minuman sesuai dengan kebutuhan, karena di area pantai ini belum ada warung atau penjual yang menyediakan makanan dan minuman.

Sayangnya, pengunjung yang memiliki hobi berenang tidak bisa menyalurkan kegemarannya tersebut. Sebab, di Pantai Jonggring Saloko ini terdapat papan larangan untuk berenang, mengingat ombak di kawasan ini tergolong sangat besar dan sewaktu-waktu bisa membahayakan pengunjung yang nekat menceburkan dirinya ke air laut.

Pantai Jonggring Saloka terletak di Desa Mentaraman, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. Lokasinya berjarak sekitar 69 km dari pusat Kota Malang. Sebelum menikmati pemandangan pantai eksotis ini, pengunjung harus menuju Kecamatan Sumberpucung dulu, lalu ke Kecamatan Donomulyo, kemudian ke Desa Materaman. Untuk menuju bibir pantai, dari kawasan perkampungan, pengunjung harus melewati jalan makadam sekitar 5 kilometer. Namun jangan khawatir, karena surga dunia bernama Jonggring Saloko menanti perjuangan Anda.siapa Berani mencoba?ujar bpk didik prasetyo

Andre

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.